MILAN, ITALY - SEPTEMBER 23: José Mourinho attends The Best FIFA Football Awards 2019 at the Teatro Alla Scala on September 23, 2019 in Milan, Italy. (Photo by Claudio Villa/Getty Images)

Dalam wawancara dengan The Coaches Voice, Jose Mourinho menceritakan masa-masa indahnya bersama Inter :

INTER
“Musim pertama di Inter, kesepakatannya adalah mempertahankan dominasi Inter di sepakbola Italia, memenangkan gelar ketiga secara berurutan. Tapi, pada saat bersamaan untuk membuat tim yang siap untuk kompetisi Liga Champions. Untuk yang kedua kami perlu membawa tim ke level berikutnya.”

MUSIM PERTAMA
“Musim pertama saat kami tersingkir dari Liga Champions oleh Manchester United, saya memberi tahu pemilik klub dan direktur olahraga apa yang kami butuhkan. Kami terkenal tim yang defensif, sangat kuat bertahan. Tapi kami harus bermain 20 meter lebih tinggi, untuk membuat tim lebih bermain dominan. Untuk membantu itu, kami membutuhkan bek tengah yang cepat, yang sangat penting bagi permainan kami. Pekerjaan yang dilakukan klub musim panas itu sangat fenomenal.

PILIHAN
“Untuk perkuat lini belakang, pilihan pertama saya adalah Ricardo Carvalho, tetapi mereke memberikan solusi lain yaitu Lucio, dia pemain yang sangat cepat. Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Kemudian, kami memerlukan pemain dengan kualitas umpan sangat baik di lini tengah. Kami memiliki pemain-pemain hebat seperti Javier Zanetti, Dejan Stankovic, Sulley Muntari. Tapi kami harus lebih dominan untuk lebih memegang kendali. Pada akhirnya Wesley Sneijder datang dan menjadi kunci bagi kami.”

MENANG
“Inter belum pernah memenangkan Piala Eropa atau Liga Champions selama hampir 50 tahun. Bahkan saat tahun 1980-an dan 1990-an, ketika hampir setiap pemain top di dunia bermain untuk Inter, mereka juga tidak berhasil memenangkannya. Harus ada tembok psikologis yang harus dihancurkan. Pendekatannya sangat sederhana, dan tim sangat cepat beradaptasi. Tidak hanya untuk terus mendominasi Serie A, tetapi untuk menjadi tim yang kuat, cerdas, dan pragmatis melawan yang tim-tim di Eropa.”

KUNCI
“Momen kunci datang saat tim melawan Chelsea di 16 besar. Datang ke Stamford Bridge dan menang di sana, itu adalah momen orang mulai percaya kepada kami dan kami mulai merasa bahwa kami memiliki tim yang mampu memenangkannya. Momen itu adalah yang dibutuhkan tim. Momen ketika dinding psikologis mulai runtuh. Memenangkan Liga Champions itu adalah prestasi yang fantastis. Itu bukan cara yang mudah untuk melakukannya, kami tidak benar-benar beruntung dalam undian. Tapi kami pergi ke kompetisi itu dengan ambisi dan tim luar biasa yang memungkinkan kami memberikan apa yang diinginkan klub.”

Sumber/Source : The Coaches Voice

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here