single-image

Eriksen, antitesis Antonio Conte

Malem yang indah di Stadion Ludogorets Arena, tak sia-sia para pemain bertandang hingga Bulgaria demi menjemput kemenengan yang penting dalam ajang “Liga Malam Jumat”. Kemenangan 2-0 secara meyakinkan setidaknya sudah menapakkan satu kaki di babak 16 besar dan memungkinkan pada pertemuan kedua nanti mengistirahatkan para pemain inti akibat padatnya jadwal Inter yang masih harus bertemu Sampdoria, Juventus, dan Napoli baik dalam ajang Serie A maupun Copa Itali.

Gol kemenangan dilesakkan oleh Sang Mestro “Eriksen” serta satu gol penalti oleh Lukaku. Yang menarik dalam pertandingan kali ini adalah dimana Sang Allenatore, Antonio Conte, menurunkan egonya dengan memainkan formasi sesuai dengan posisi dan kemampuan para pemainnya yang ada. Ia mengubah formasi pakemnya semula 3-5-2 menjadi 4-3-1-2 selama kurang lebih 20 menit lamanya. Susunannya adalah Eriksen dibelakang Lukaku dan Sanchez dengan tiga pemain lini tengah yakni Barella, Valero, dan Vecino. Empat bek dibelakang diisi oleh Young-Godin-Ranocchia-Ambrosio. Dengan formasi yang mengikuti kemampuan para pemain, terlihat di 20 menit terkahir permainan Inter terutama di lini depan cukup berkembang dengan memainkan Eriksen di posisi favoritnya. Ditambah pergerakan Sanchez yang sangat aktif dalam membuka ruang membuat kreatifitas permainan Inter semakin liar.

Fleksibilitas ala Conte ini tentunya tak lepas dari pengaruh kedatangan Eriksen pada bursa musim dingin lalu. Sebagaimana kita ketahui Eriksen merupakan pemain yang biasa memainkan peran nomor 10 ala Tsubasa Ozora dibelakang striker maupun winger-inverter. Banyak pengamat yang ragu hingga penasaran bagaimana Conte memaksimalkan peran Eriksen dalam skemanya. Walau dalam pers terakhir Conte mengiyakan bahwa Eriksen masih perlu adaptasi namun seharusnya Conte-lah yang mesti berimprovisasi sebagai upaya memaksimalkan kemampuan Eriksen. Secara materi pemain Conte bisa dikatakan memiliki modal yang cukup bila bereksperimen ke dalam format 4 bek ataupun 3-4-1-2.

Pertandingan semalem semakin memberi harapan para fans dimana Eriksen benar-benar menjadi antitesis Conte dengan bereksperimen dengan mengubah formasi pakemnya. Tentu hal ini masih terlalu dini untuk bisa dikatakan demikian, tapi setidaknya dengan penggunaan formasi ataupun pendeketan berbeda dengan mengikuti kemampuan pemain yang ada tentunya bisa menjadi salah satu alternatif dalam memperoleh kemenangan baik ketika melawan klub besar maupun medioker.

Jadi, Bagaimana langkahmu selanjutnya Conte?

 

 

Coretan,

Bang IGe

2 Comments
  1. Bebeb inter 1 year ago
    Reply

    Setuju bg…zaman skrg setiap tim hrus punya pakem alternatif

  2. iloveinter 1 year ago
    Reply

    Wkwkw, LIGA MALAM JUMAT!!!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like

Berita Inter Milan Terlengkap